Kalau kamu kreator, pasti pernah pakai Remove.bg untuk cepat hapus background. Praktis, tapi coba deh kasih foto rambut acak-acakan atau gelas bening. Hasilnya? Masih perlu sentuhan manual. Kita butuh yang lebih rapi, lebih cerdas. Setelah nyoba puluhan tools, ini 5 alternatif yang beneran bikin kerjaan lebih halus.

1. Adobe Photoshop – The Undisputed King

Photoshop masih jadi andalan utama buat kerjaan profesional. Tools AI-nya di versi terbaru bikin hapus background jadi beda level.

Select Subject sekarang lebih gila akurasinya. Klik sekali, Photoshop otomatis deteksi objek utama. Buat foto portrait dengan rambut berantakan? Biasanya masih sempurna. Kalau kurang, tinggal tambah Refine Edge Brush di Select and Mask.

Trick favorit: Remove Tool (dari generative AI). Bukan cuma hapus background, tapi bisa bersihin objek pengganggu sambil otomatis isi background-nya. Pernah hapus tiang di belakang model, hasilnya seamless.

Biaya: Rp 150.000/bulan via Adobe Creative Cloud. Mahal? Iya. Tapi buat yang kerjaan desain tiap hari, ini investasi.

2. Clipdrop by Stability AI – AI Murni Tanpa Basá-basi

Ini yang paling bikin terkejut tahun ini. Clipdrop punya Stable Diffusion di belakangnya, dan ketajaman AI-nya bukan main.

Upload foto, dalam 3 detik dapat hasil PNG transparan. Bedanya dengan Remove.bg? Anti-aliasing-nya lebih natural. Ujung rambut nggak terlalu “terpotong kasar”. Gelas bening atau objek transparan juga lebih bisa diandalkan.

Baca:  Adobe Photoshop Vs Affinity Photo: Hemat Biaya Langganan Tanpa Korban Fitur

Versi gratis cukup buat 100 gambar/bulan. Versi Pro $7/bulan buat resolusi tinggi tanpa watermark. Pernah coba hapus background produk kaca untuk e-commerce, hasilnya langsung pakai tanpa perbaikan.

Plus: Ada fitur Uncrop dan Cleanup yang bisa expand canvas atau hapus objek kayak Photoshop generative fill.

3. Canva Pro – Workflow All-in-One

Bukan sekadar hapus background, tapi integrasinya yang bikin produktif. Kalau kamu bikin konten sosmed tiap hari, ini penyelamat waktu.

Klik foto di canvas, pilih Background Remover di toolbar efek. Dalam 5 detik, selesai. Nggak perlu download-upload lagi. Langsung taruh ke template Instagram, tambah teks, export.

Kelemahan? Kurang kontrol manual. Kalau hasilnya kurang sempurna, nggak ada brush untuk edit mask. Solusinya: download PNG, lanjutkan di Photoshop atau Photopea.

Harga: Rp 165.000/tahun. Murah banget buat yang butuh cepat dan banyak. Cocok buat content creator, kurang buat retouching foto high-end.

4. Photopea – Gratis Tapi Bisa Dikonfig

Photopea itu Photoshop versi browser. Gratis. Nggak perlu install. Buka di Chrome, langsung kerja.

Background removal di sini manual: Magic Wand Tool, Quick Selection, atau Select > Subject (ini fitur AI-nya). Memang butuh beberapa klik tambahan dibanding Remove.bg, tapi kamu punya full control.

Pernah nyelesein deadline di kantor tanpa laptop berat. Buka Photopea.com, upload file PSD, hapus background pake Quick Selection + Select and Mask. Hasilnya? Bisa kompetitor Photoshop kalau kamu cukup telaten.

Keuntungan: Support layer mask, adjustment layer, semua workflow Photoshop standar. Minus: Nggak ada AI secerdas Photoshop terbaru.

5. Figma + Plugin – Untuk Digital Designer

Kalau kamu UI/UX designer atau bikin asset digital, ini workflow paling efisien.

Baca:  Review Capture One Pro: Kenapa Fotografer Studio Lebih Memilih Ini Daripada Lightroom?

Install plugin Remove BG by Icons8 atau AI Background Remover. Pilih frame foto, klik plugin, otomatis teraplikasi di layer.

Kelebihannya: Non-destructive. Plugin bikin layer mask baru, jadi kamu bisa edit mask-nya manual pakai vector tool Figma. Buat bikin asset icon, mockup, atau ilustrasi UI, ini perfect.

Pernah bikin mockup app dengan foto user. Satu klik, background hilang, langsung taruh di screen mockup. Nggak perlu keluar dari Figma sama sekali.

Gratis tapi butuh akun Remove.bg/Clipdrop API key kalau mau unlimited. Kalau nggak, pake versi trial-nya cukup buat project kecil.

Head-to-Head: Mana yang Paling Rapi?

Semua tergantung use case. Tapi kalau bicara soal “kerapihan” tanpa edit manual, ini ranking-nya:

  1. Clipdrop – AI terbaik untuk edge complex (rambut, bulu, transparan)
  2. Photoshop – Kombinasi AI + kontrol manual tertinggi
  3. Canva Pro – Cukup rapi buat digital/sosmed
  4. Figma + Plugin – Rapi tapi terbatas resolusi
  5. Photopea – Tergantung skill manual kamu

Tabel Perbandingan Cepat

ToolHargaKecepatanKontrol ManualBest For
PhotoshopRp 150k/bulan2-5 menitPenuhProfessional retouching
ClipdropGratis/Pro $73-10 detikTidak adaAI quality, e-commerce
Canva ProRp 165k/tahun5-10 detikTerbatasContent sosmed
PhotopeaGratis3-10 menitPenuhQuick edit tanpa install
FigmaGratis/Pro5-15 detikMask editingDigital design asset

Kesimpulan Praktis

Butuh hasil paling rapi tanpa ribet? Langsung ke Clipdrop. AI-nya paling canggih saat ini.

Kerjaan foto produk/editorial high-end? Photoshop nggak ada tandingan. Kontrol manualnya bikin kamu bisa perbaiki detail halus.

Content creator yang produksi masal? Canva Pro worth every penny. Workflow-nya bikin 10 postingan jadi 30 menit.

Di kantor atau laptop orang lain? Photopea jadi penyelamat. Gratis dan cukup powerful.

UI/UX designer? Figma + plugin. Nggak perlu keluar dari design tool.

Hapus background itu nggak sekadar punya AI paling canggih, tapi seberapa cepat kamu bisa integrasikan hasilnya ke workflow kerjamu. Pilih yang paling nyaman, bukan yang paling hype.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Midjourney V6: Sebagus Apa Hasilnya Dibandingkan Dall-E 3?

Midjourney v6 rilis, dan tiba-tiba semua konsep art gue yang pake DALL-E…

Lightroom Mobile Vs Vsco: Mana Yang Filter Estetiknya Paling Natural?

Sebagai kreator yang tiap hari berhadapan dengan puluhan foto untuk konten, aku…

Photoshop Elements 2025: Solusi Edit Foto Untuk Fotografer Pemula?

Kalau kamu fotografer pemula yang pengen edit foto tapi ngerasa Photoshop terlalu…

Review Capture One Pro: Kenapa Fotografer Studio Lebih Memilih Ini Daripada Lightroom?

Kalau kamu pernah ngeliat fotografer studio ngomongin “tethering” sambil cekrek-cekrek, lalu ngeluh…