Bayangin lagi deadline client mepet, lo butuh catatan lama buat referensi, tapi Notion-nya loading terus. Spinner-nya muter kayak gak ada habisnya. Itu bukan bug, itu feature dari arsitektur cloud-based yang bikin lo tergantung sama koneksi internet. Saya udah 3 tahun ngandelin Notion untuk manage project video, script, dan asset desain. Tapi di titik itu, pas lagi di cafe dengan WiFi ngambang, saya mutusin: ini harus berhenti.
Masalah Nyata yang Gak Ditunjukin di Review Lain
Review Notion biasanya fokus ke UI yang cantik dan block system yang fleksibel. Tapi mereka gak pernah cerita soal lagging saat database lo punya 500+ entry. Di project dokumentasi video saya, tiap item punya 15+ properti: status, link Drive, thumbnail, script, revision notes. Buka halaman itu? Bisa 8-10 detik. Scroll ke bawah? Stuttering.

Dan itu di laptop M1 Pro. Bayangin kalau di spek lebih rendah. Notion technically pakai lazy loading, tapi implementasinya buruk untuk heavy user. Mereka prioritize tampilan dulu, data belakangan. Keren untuk demo, tapi praktis buat kerja? Gak konsisten.
Offlinemode yang “Hampir” Ada Tapi Gak Berguna
Notion klaim bisa offline. Reality? Kalau lo gak pernah buka halaman tertentu sebelumnya, itu halaman gak bakal bisa diaksa sama sekali. Saya pernah di lokasi shoot di luar kota, butuh storyboard yang tersimpan di Notion. Ternyata, karena belum ke-load di cache, saya cuma bisa lihat judul halaman doang. Sisanya blank. Di Obsidian? Semua file local, semua selalu ada. Buka dalam 0.5 detik, dengan atau tanpa internet.
Biaya Bulanan yang Ngelindingin Dompet
$10 per user per bulan terdengar wajar. Tapi kalkulasiin setahun: $120. Dalam Rupiah sekarang? Hampir 2 juta. Untuk solo kreator, itu bisa buat beli plugin premium atau upgrade storage. Saya punya 3 workspace: personal, kolab client A, kolab client B. Mau gak mau harus bayar semua. Obsidian? Gratis untuk personal use. Kalau mau sync dan publish, cuma $8 per bulan total, bukan per user.
Data Privacy yang Selalu Jadi Tanda Tanya
Project saya kadang include file mentah dari klien besar. NDA ketat. Nyimpen di cloud Notion (meski private) tetap bikin was-was. Saya gak punya kontrol penuh di mana data itu physically stored. Dengan Obsidian, semua file markdown ada di hardisk saya. Backup ke NAS atau encrypted cloud pilihan sendiri. Kontrol penuh, zero trust issue.

Kenapa Obsidian Justru Lebih “Kreator Friendly”
Pertama, pure Markdown. Copy-paste dari Obsidian ke blog, GitHub, atau platform lain? Formatting tetap konsisten. Notion punya “export to Markdown” tapi hasilnya berantakan: block ID muncul, link jadi aneh. Di Obsidian, file .md-nya bisa dibuka di VS Code, di mobile app lain, bahkan di teks editor 20 tahun lalu.
Kedua, plugin community. Butuh kanban board? Ada. Butuh advanced table? Ada. Butuh integrate dengan Figma atau Miro? Tinggal pasang plugin. Notion juga punya API, tapi butuh coding skill. Plugin Obsidian mostly one-click install. Saya pakai Dataview untuk otomatisasi project dashboard, sesuatu yang mustahil dilakukan di Notion tanpa API calls ribet.
Graph View yang Beneran Berguna
Notion punya backlink, tapi visual graph-nya lemah. Cuma garis-garis sederhana. Di Obsidian, graph view bisa jadi creative thinking tool. Saya bisa filter tag, warnain berdasarkan folder, lihat hubungan antar ide secara dinamis. Ini game-changer buat pre-production brainstorming.
Transisi yang Nggak Semonster yang Dibayangkan
Awalnya saya takut pindah: ribuan catatan di Notion, gimana caranya? Ternyata ada Notion to Obsidian exporter (plugin gratis). Prosesnya:
- Export workspace Notion jadi Markdown + CSV (fitur bawaan Notion)
- Import ke Obsidian pakai plugin
- Fix broken link otomatis (plugin juga)
- Setup folder structure sesuai kebutuhan
Seluruh proses 2 jam untuk 1.500+ halaman. Link internal 90% tetap work. Sisanya? Cari manual pake global search Obsidian yang super cepat.
Obsidian Bukan Tanpa Kekurangan
Jujur, learning curve-nya lebih curam. Notion itu “click and play”. Obsidian butuh setup awal: pilih plugin, atur CSS snippet kalau mau custom, paham YAML frontmatter. UI default-nya juga agak… barebone. Tapi itu trade-off yang worth it. Kalau lo mau tool yang cantik out-of-the-box, Notion menang. Kalau lo mau tool yang ngikutin alur kerja lo, bukan sebaliknya, Obsidian lebih superior.
Obsidian itu kayak Linux: butuh konfigurasi awal, tapi sekali pas, jadi mesin yang gak pernah ngecewain. Notion itu macOS: cantik, tapi lo terjebak di walled garden mereka.
Verdict: Untuk Kreator yang Serius, Obsidian adalah Masa Depan
Setahun pake Obsidian, saya gak pernah lagi mikir “ada di cloud mana” atau “bisa offline gak ya”. Speed-nya konsisten. File-nya punya. Biaya bulanan ilang. Dan yang paling penting, saya punya kontrol penuh atas ekosistem kerja saya.
Notion masih bagus untuk kolab tim besar yang butuh real-time editing tanpa setup. Tapi untuk solo kreator atau small team yang value speed, privacy, dan ownership? Pindah itu bukan pilihan, tapi keharusan.
So, kalau lo lagi ngerasain hal-hal yang saya sebut di atas, mungkin ini tanda. Tanda buat coba Obsidian minimal 1 minggu. Jangan cuma baca review. Rasain sendiri bedanya. Trust me, your future deadline-driven self will thank you.




