Pertanyaan ini udah jadi perdebatan klasik di setiap warung kopi desainer. Saya sendiri pernah 5 tahun ngotot pilih Illustrator, lalu 3 tahun harus paksa pindah ke CorelDRAW karena klien. Jujur? Both can break your heart. Tapi untuk bisnis percetakan, pilihan itu nggak soal “lebih bagus”—itu soal siapa yang bayar invoice dan format file apa yang mereka punya.

Realita File: CDR Adalah Raja di Lapangan

Mau sehebat apapun Illustrator, kalau 80% klien lo datang dengan file CDR versi X7 yang harus selesai besok pagi, lo nggak punya pilihan. Di dunia percetakan lokal—spanduk, brosur, undangan—CorelDRAW masih jadi lingua franca. Bukan karena lebih canggih, tapi karena warung sablon pinggir jalan sampai vendor mesin besar punya operator yang lahir dan besar dengan Corel.

Saya pernah kehilangan proyek Rp 50 juta cuma karena nggak bisa edit file CDR lama yang rusak. Klien nggak peduli “export ke AI”. Mereka mau file bisa dibuka tanpa missing font, tanpa link rusak, tanpa shift. CorelDRAW punya keunggulan brutal di sini: font embedding dan file packaging yang jauh lebih forgiving.

Color Management: Illustrator Lebih “Dewasa”

Ketika masuk ke percetakan proper—misalnya packaging, majalah, atau branding korporat—Illustrator unggul jauh. Color settings-nya lebih granular, integrasi dengan Adobe Color dan Pantone lebih seamless, dan handling spot color lebih presisi. Saya pernah bikin job packaging minuman yang harus pass UPC check. Illustrator bisa kasih preview overprint yang akurat, sementara Corel kadang surprise di mesin RIP.

Baca:  7 Font Manager Terbaik Untuk Mengatur Ribuan Font Di Windows & Mac

Di CorelDRAW, color management itu ada tapi kayak afterthought. Bisa jadi, tapi butuh menu deep. Kalau studio lo kerja dengan standard ISO 12647 atau butuh soft proofing yang serius, Illustrator lebih siap.

Prepress dan Preflight: Illustrator Punya “Pemeriksa OCD”

Fitur Preflight di Illustrator (terutama versi terbaru) itu dewa. Bisa auto-detect low-res image, missing bleed, font embedding issue, spot color inconsistency. Saya pernah nyelamatkan diri dari 1000 copy brosur salah potong gara-gara preflight warning.

CorelDRAW? Ada Preflight-nya juga, tapi notifikasi-nya kayak reminder lama yang bisa di-skip. Lebih parah: default export PDF-nya sering nggak print-ready. Kudu manual cek “simulate overprint” dan “honor spot colors”. Skip satu checklist, bisa-bisa print jadi mahal.

Ekosistem: Adobe = Kolaborasi, Corel = Solo Player

Kalau lo punya tim desain lebih dari 3 orang, atau serah terima file dengan agency lain, Illustrator adalah default. Creative Cloud itu bukan cuma software, itu file sharing, font sync, version control. Saya bisa kerjakan file di laptop, lanjut di studio, revisi di iPad—tanpa flash disk.

CorelDRAW? One man army tool. File sharing-nya masih kuno, font management-nya lemot, dan kompatibilitas antar versi masih jadi mimpi buruk. Buka file 2022 di 2020? Good luck.

Warning: 70% error di percetakan berasal dari file handling, bukan desain. Pilih software yang error-proof, bukan yang cuma bikin desan “keren”.

Speed & Performance: CorelDRAW Menang Mentah

Ini fakta pahit: CorelDRAW lebih kencang di hardware mid-range. Buka file 500MB dengan ratusan objek? Corel bisa dalam 30 detik. Illustrator? Bisa 3 menit plus spinning beachball of death. Rendering effect di Corel juga lebih real-time, sementara Illustrator kadang butuh preview.

Baca:  Kelebihan Dan Kekurangan Inkscape Sebagai Pengganti Illustrator Gratis

Tapi kecepatan itu punya harga: stabilitas. Corel lebih sering crash saat save besar. Illustrator lebih stabil tapi lebih berat. Pilih racunmu.

Fitur Khusus Percetakan: Corel Punya “Shortcut Ilegal”

Beberapa fitur CorelDRAW itu game changer untuk bisnis cetak:

  • Barcode generator built-in—bikin barcode langsung jadi, tanpa plugin.
  • Imposition layout—bikin ganda, booklets, n-up langsung di software.
  • PowerClip dan Contour—untuk desain stencil, sablon, dan cutting sticker jauh lebih cepat.
  • Export ke mesin cutting (Roland, Mimaki) lebih native.

Illustrator butuh plugin tambahan untuk semua itu. Tapi kalau lo butuh 3D mockup, advanced pattern making, atau integrasi dengan After Effects untuk motion preview, Illustrator jauh lebih luas.

Biaya: Bukan Cuma Harga Subscription

Adobe Creative Cloud: ±Rp 300 ribu/bulan. CorelDRAW: Rp 10 jutaan sekali bayar. Terlihat jelas, kan?

Tapi hitung lagi: Adobe termasuk 20+ app, cloud storage, dan font library. Kalau lo butuh Photoshop, InDesign, dan Acrobat Pro (semua wajib di percetakan), Creative Cloud jauh lebih murah. Belum lagi cost training—desainer baru 90% udah bisa Illustrator, CorelDRAW harus train dari nol.

Kesimpulan Praktis: Pilih Berdasarkan Klien, Bukan Ego

Jangan tanya “mana yang lebih bagus”. Tanya: “Siapa yang bayar?”

  • Pilih CorelDRAW kalau: 70% klien lo datang dengan file CDR, lo kerja solo, dan fokus ke signage, sablon, digital printing lokal.
  • Pilih Illustrator kalau: lo kerja dengan agency, brand korporat, packaging, atau tim kolaboratif. Dan punya budget training untuk tim.

Solusi ideal? Punya keduanya. Saya sekarang pakai Illustrator untuk desain dan prepress, tapi maintain satu seat CorelDRAW cuma untuk file rescue dan quick edit. Mahal? Bandingin sama cost salah print 1000pcs kemasan.

Final tip: Pelajari satu software sampai expert, tapi cukup paham rivalnya untuk bertahan hidup. Percetakan itu soal deliver, bukan soal loyalitas brand.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Clip Studio Paint Ex: Investasi Wajib Untuk Pembuat Komik Webtoon?

Scroll panjang untuk episode webtoon di Photoshop? Pernah coba dan hampir putus…

Review Canva Pro 2025: Apakah Worth It Untuk Desainer Grafis Profesional?

Desainer grafis profesional pasti pernah ngerasain dilema ini: client minta revisi ASAP…

Blender 3D Vs Sketchup: Mana Yang Lebih Mudah Dipelajari Arsitek Pemula?

Pernah ngerasain betapa frustasinya buka software 3D baru, ngeliat interface-nya, terus langsung…

Review Sketchbook: Aplikasi Gambar Gratis Rasa Premium Di Android Tablet

Sebagai kreator yang pernah nyobain puluhan aplikasi gambar di Android, saya pernah…