Pernah ngerasain betapa frustasinya buka software 3D baru, ngeliat interface-nya, terus langsung mikir: “ini mah bukan buat aku”? Aku pernah. Waktu mahasiswa arsitektur dulu, aku menghabiskan dua minggu cuma buat nge-render satu bangunan di Blender, padahal temenku di SketchUp udah presentasi ke dosen. Tapi tiga tahun kemudian, aku bisa bikin form organik yang dia cuma bisa impikan. Jadi pertanyaannya nggak cuma “mana yang lebih mudah?” tapi “mudahnya untuk apa, dan sampai kapan?”
Filosofi Dasar: Sketching vs Sculpting
SketchUp itu seperti pensil digital. Kamu ngambil garis, tarik permukaan, dan boom—dinding muncul. Interface-nya lebih mirip AutoCAD dibanding software 3D lain. Kamu punya push-pull tool yang legendaris itu, dan hampir 80% pekerjaan arsitektur dasar cuma butuh 4-5 tool.
Blender? Bayangkan diberikan studio lengkap dengan 47 hotkeys yang harus dihafal dulu sebelum bisa lukis. Ini node-based, modifier-heavy, dan punya filosofi “non-destructive” yang bikin kamu mikir lima langkah ke depan. Bukan digital pencil—ini digital workshop.
Intinya: SketchUp mengajarkan kamu berpikir seperti arsitek. Blender mengajarkan kamu berpikir seperti technical artist.
Minggu Pertama: Angka Nyata Tanpa Basa-Basi
Aku ngajarin junior di kantor. Yang pakai SketchUp bisa modeling rumah tinggal dua lantai dalam 3 jam pertama tanpa lihat tutorial. Interface-nya intuitif karena ikon besar dan toolbar terbatas. Kamu klik, kamu tarik, jadi.
Di Blender? 3 jam pertama habis cuma buat nge-set viewport, paham bedanya Object Mode dan Edit Mode, dan ngerti kenapa scale object harus apply terlebih dahulu. Tapi setelah seminggu, mereka yang bertahan bisa duplikasi 10 unit rumah pakai array modifier dalam 30 detik. Yang di SketchUp masih klik-copy-paste manual.

Ketika “Mudah” Jadi Penjara
SketchUp super cepat untuk boxy architecture—rumah, kantor, ruko. Tapi coba bikin atap melengkung organik atau facade parametric. Aku pernah disuruh desain canopy dengan bentuk bebas untuk proyek cafe. Di SketchUp, aku harus pakai plugin Artisan yang nggak stabil. Di Blender? Subdivision surface + proportional editing, selesai dalam 15 menit.
SketchUp juga punya batas poligon yang bikin file besar jadi laggy. Pernah model apartemen dengan detail furniture? File-nya 250MB, geraknya kayak PowerPoint 1998. Blender dengan collection instances bisa handle scene serupa di bawah 50MB.
Realitas Rendering: Dari Jebakan Bayangan
SketchUp punya V-Ray dan Enscape—keren, tapi harga license-nya bisa Rp 15 jutaan per tahun. Blender punya Cycles dan Eevee, built-in, gratis. Rendering interior real-time di Eevee? Aku bisa iterasi 5 variasi material kayu dalam 10 menit sambil client ngobrol di samping. Di V-Ray, tiap tweak berarti nunggu preview 2 menit.
Harga Tersembunyi di Balik “Gratis”
SketchUp versi “gratis” itu web-based, nggak support plugin, dan hasil render-nya watermark. Versi Pro? Rp 7 juta per tahun. Dan kamu butuh plugin SketchUV (Rp 500rb) buat UV mapping yang proper, Skatter (Rp 1,5 juta) buat vegetation massal.
Blender 100% gratis. Tapi time investment-nya lebih mahal. Aku habiskan 120 jam belajar dari YouTube (Channel Blender Guru, CGMatter) sebelum produktif. Itu setara dengan Rp 18 juta kalau dihitung UMR Jakarta. Tapi setelah itu? Nggak ada biaya tambahan apa-apa.
Hitungannya: SketchUp murah di awal, mahal di perjalanan. Blender mahal di awal, murah selamanya.
Workflow Nyata: Dari CAD ke Presentasi
Di kantor arsitektur, 90% dimulai dari DWG. SketchUp import-nya flawless—layer AutoCAD tetap terjaga. Kamu bisa langsung extrude dinding dalam 5 menit. Blender? Import DXF/DWG butuh plugin, dan skalanya sering ngaco. Butuh 15 menit cleanup.
Tapi begitu masuk fase desain development, Blender unggul. Aku bisa pakai Geometry Nodes untuk generate railing secara procedural. Ganti spacing dari 1m ke 1,2m? Satu slider. Di SketchUp? Delete semua, ulang dari nol.
Iterasi Client: Saat Deadline Mengintai
Client minta ganti material facade jadi bata expose di menit ke-50 presentasi? Di SketchUp + Enscape, aku butuh 3 menit ganti material, 2 menit render preview. Total 5 menit.
Di Blender + Eevee? Ganti material di node editor: 30 detik. Render preview real-time: 0 menit. Client lihat langsung di viewport. Keputusan diambil dalam 1 menit.
Ekosistem dan Support: Generasi vs Kualitas
Komunitas SketchUp itu seperti komunitas tukang bangunan—praktis, tua, dan fokus arsitektur. Forum-nya penuh dengan orang yang udah 10+ tahun pakai tool ini. Problem solving-nya cepat tapi konservatif.
Komunitas Blender itu seperti komunitas startup—energik, muda, dan beragam. Dari animator film, game artist, sampe AI researcher. Tutorial di YouTube update tiap minggu, tapi kamu harus sortir mana yang quality content.

Data Spesifik: Spesifikasi Minimum untuk Produktif
| Aspek | SketchUp Pro 2024 | Blender 4.0 |
|---|---|---|
| RAM Minimal (Smooth) | 16GB | 32GB |
| GPU untuk Rendering | Optional (CPU render) | Strongly Recommended |
| File Size (Same Scene) | ~200MB | ~50MB |
| Hotkeys untuk Operasi Dasar | ~15 | ~47 |
| Plugin Essential Cost | ~Rp 3-5 juta | Rp 0 |
Verdict Berdasarkan Tujuan Nyata
Jika kamu mahasiswa semester 1-3 yang butuh presentasi cepat dan nilai bagus: SketchUp. Kamu akan jadi hero di studio karena cepet jadi. Tapi siap-siap stuck saat studio desain kompleks semester 5.
Jika kamu freelancer atau punya visi jangka panjang: Blender. 6 bulan pertama akan penuh air mata, tapi setelah itu kamu bisa handle proyek dari arsitektur sampe visualisasi film. Skill-nya transferable ke industri kreatif lain.
Di kantorku sekarang, kami pakai keduanya. SketchUp untuk schematic design (minggu 1-2). Blender untuk design development dan final rendering (minggu 3-4). Best of both worlds, tapi butuh pipeline yang jelas.
Software termudah adalah software yang cocok dengan tipe otakmu. SketchUp untuk otak praktis. Blender untuk otak eksperimental. Pilih sesuai DNA desainmu, bukan hype.




