Recording gameplay yang patah-patah di tengah aksi epic? File size gede banget tapi kualitasnya masih kayak video tahun 2010? Capek ngutak-ngatik settingan sampai bingung sendiri? Tenang, kamu nggak sendirian. Setiap YouTuber gaming pernah ngerasain frustasi ini. Setelah nyobain puluhan software selama 7 tahun nge-handle channel gaming, ini 5 screen recorder PC yang beneran work di medan perang konten.

OBS Studio: The Undisputed King

Kalau kamu serius soal gaming content, OBS Studio itu bukan pilihan—itu mandatory. Gratis, open-source, dan punya kontrol granular yang bikin software berbayar malu. Tapi jujur, learning curve-nya empat terjal buat pemula.

Yang bikin OBS beda adalah Scene system-nya. Bisa bikin layout kompleks: webcam overlay, alert box, chat overlay, bahkan switching scene otomatis berdasarkan window yang aktif. Aku pernah setup 15 scene beda buat satu game, mulai dari “Loading Screen” sampe “Gameplay Intense”.

  • Performance: Dengan NVENC atau AMF encoder, overhead-nya cuma 5-10% FPS di rig mid-tier (RTX 3060 + Ryzen 5 5600X)
  • File Size: 1 jam 1080p60 di CQP 20 = sekitar 15-20GB (bisa di-tweak lebih kecil)
  • Audio: Multi-track recording support, bisa pisahin game audio, mic, Discord, dan music track

Tapi hati-hati, OBS butuh waktu buat “warm-up”. Settingan default-nya jelek banget. Kamu harus matiin preview, turunin process priority, dan nge-tweak encoder setting secara manual. Kalau nggak, hasilnya bisa lebih buruk dari ShadowPlay.

OBS itu kayak motor gede: powerfull banget kalau kamu mau belajar, tapi bisa ngelukain performa kalau asal gas.

Nvidia ShadowPlay: The Zero-Fuss Solution

Punya GPU Nvidia? ShadowPlay (GeForce Experience) itu godsend. Instalasi minimal, overhead hampir nol, dan punya fitur Instant Replay yang bisa ngesave 20 menit terakhir dengan satu tombol. Ini lifesaver buat capture moment epic yang nggak disangka.

Baca:  Final Cut Pro Vs Adobe Premiere: Alasan User Mac Susah Move On

Dari pengalaman, ShadowPlay di RTX 3070 cuma ngurangin FPS maksimal 2-3 frame. Bandingkan sama OBS yang bisa 10-15 frame kalau settingan salah. Encoder NVENC-nya diintegrasi langsung ke hardware, jadi CPU-nya bisa fokus ke game.

Kelemahannya? Control-nya terbatas banget. Bitrate maksimal 130 Mbps (cukup sih), tapi nggak bisa custom resolution aneh-aneh. Audio track juga cuma bisa stereo mix, nggak bisa pisahin mic dan game audio. Editing jadi lebih tricky.

  • Best for: Highlight reel, moment clip, atau YouTuber yang record-edit-upload tanpa banyak mixing
  • File size: 1 jam 1080p60 = 25-30GB (lebih boros dari OBS)
  • Quality: Surprisingly good untuk bitrate yang “terbatas”

Bandicam: The Indonesian Favorite

Kenapa Bandicam masih relevan? Karena reliability-nya di PC kentang. Aku pernah jalanin Bandicam di laptop Core i5 gen 4 + GT 840M, dan masih bisa record 720p30 dengan FPS stabil. Try that with OBS.

Interface-nya jadul banget, tapi itu justru bikin familiar. Settingan ada di depan mata, nggak perlu nge-scroll panel. Fitur Device Recording-nya juga oke buat capture console via capture card. Pernah aku pake buat record PS3 pakai Elgato HD60, lancar.

Yang bikin agak turn-off adalah watermark di versi gratis dan file size yang gede kalau nggak pake compression bawaan. Tapi codec-nya (MPEG-1, Xvid) cukup efisien untuk hardware lawas.

Pro tip: Aktifin Hardware Acceleration (Nvidia NVENC/Intel Quick Sync) di Bandicam. Bisa cut render time 70% dan file size jadi separuhnya.

Streamlabs OBS: The Beginner-Friendly Beast

Kalau OBS terlalu intimidating, Streamlabs OBS (SLOBS) itu jalan tengah. Built on top OBS, tapi semua sudah pre-configured. Alert box, chat box, widget—semua tinggal drag-and-drop. Waktu pertama kali streaming Valorant, aku setup SLOBS cuma 15 menit, termasuk theming.

Performa? Di bawah OBS murni. Overhead-nya lebih gede karena built-in browser source dan app ecosystem. Tapi untuk YouTuber yang butuh quick and dirty setup, trade-off-nya worth it.

  • Resource Usage: 15-20% lebih tinggi dari OBS Studio
  • Best Feature: Library asset gratis (overlay, alert sound) langsung di dashboard
  • Weakness: Update bisa buggy, kadang crash di game tertentu

Streamlabs OBS itu kayak mobil automatic: nggak secepat manual, tapi nyaman buat daily driver.

Action! by Mirillis: The Codec Wizard

Ini hidden gem. Action! punya codec proprietary (FICV – Fast Intra Compression Video) yang bisa produce file size kecil dengan quality mantap. 1 jam 1080p60 di setting Ultra bisa cuma 10-12GB, setara OBS CQP 23 tapi quality lebih konsisten.

Baca:  5 Software Animasi 2D Terbaik Untuk Pemula Yang Ingin Jadi Animator

Fitur Time-Shift-nya mirip ShadowPlay, tapi lebih fleksibel: bisa set sampai 10 menit. UI-nya juga paling gamer aesthetic dibanding semua software di list ini. Live streaming integration-nya oke, tapi nggak sepowerfull OBS.

Nah, masalahnya: harganya. $30 untuk lifetime license. Bagi sebagian orang, itu mahal. Tapi kalau hitung waktu upload yang lebih cepat (file size kecil) dan storage yang lebih irit, ROI-nya ada dalam 3-4 bulan buat YouTuber aktif.

Perbandingan Head-to-Head: Mana yang Cocok Buatmu?

Sebelum pilih, cek spesifikasi PC dulu. Ini bukan soal “terbaik secara mutlak”, tapi “terbaik untuk use case-mu”.

SoftwareBest ForPerformance HitFile Size (1hr 1080p60)Price
OBS StudioPro YouTuber/Streamer5-10%15-20GBFree
ShadowPlayHighlight/Replay2-3%25-30GBFree (Nvidia)
BandicamPC Kentang8-12%30-35GB$40/Lifetime
Streamlabs OBSBeginner Streamer10-15%18-22GBFree
Action!File Size Concern6-9%10-12GB$30/Lifetime

Final Verdict: Pilih Berdasarkan Prioritasmu

Nggak ada yang sempurna. Kalau maksimal kontrol dan kualitas, OBS Studio tetap jawabannya. Tapi siapin waktu belajar. Kalau malas ribet dan punya RTX, ShadowPlay itu no brainer. PC lawas? Bandicam masih bisa diandelin.

Yang penting, jangan jadi gear junkie yang gonta-ganti software tiap minggu. Pilih satu, deep dive, dan mastering. Aku sendiri pake OBS untuk video edited, ShadowPlay untuk highlight, dan Action! untuk longplay walkthrough. Kombinasi ini cover semua base.

Oh, dan satu lagi: selalu record ke SSD. HDD bikin encoding stutter bahkan di software paling ringan. Trust me, aku pernah ngeluarin 2 jam recording cuma buat tau hasilnya patah-patah gara-gara write speed nggak cukup. Frustasi level dewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Software Animasi 2D Terbaik Untuk Pemula Yang Ingin Jadi Animator

Mau jadi animator tapi bingung milih software yang nggak bikin pusing? Tenang,…

Capcut Pc Vs Adobe Premiere Pro: Bisakah Capcut Menggantikan Software Profesional?

Biaya langganan Adobe Premiere Pro yang bikin dompet jebol tiap bulan pasti…

7 Software Edit Video Gratis Tanpa Watermark Untuk Laptop Spek Rendah

Sebagai kreator yang pernah ngedit video di laptop Celeron dengan RAM 4GB,…