Streaming game tapi PC cuma punya i3 dan RAM 8GB? Buka Streamlabs Desktop langsung jadi slideshow, game jadi nge-lag parah. Saya pernah di sana, dan frustasinya real. Tapi ternyata, masalahnya bukan cuma soal spek—tapi juga how you use it.

Streamlabs vs PC Kentang: The Real Talk

Pas pertama kali install Streamlabs Desktop di Ryzen 3 2200G + GTX 1050 Ti, ekspektasi saya tinggi. Tampilannya keren, fiturnya lengkap, tapi begita streaming Apex Legends, FPS drop dari 60 ke 30-an. CPU usage langsung nangkring di 90-95%. Itu tanda red flag jelas.

Streamlabs memang OBS tapi “dijadiin bloatware” versi saya. Maksudnya, mereka nambahin banyak service integration—alert box, chat box, donation goal—semua jalan di background. Kalau PC lo cuma punya 4 core CPU, ini deadly.

Angka Nyata: Berapa Sih Bebannya?

Saya tes di tiga konfigurasi berbeda untuk dapet data konkret:

  • PC Kentang: i3-8100, 8GB RAM, GTX 1050. Idle: 15% CPU. Streaming 720p30: 70-85% CPU. Game jadi unplayable.
  • PC Mid: Ryzen 5 3600, 16GB RAM, RTX 2060. Idle: 8% CPU. Streaming 1080p60: 40-50% CPU. Masih nyaman.
  • PC High: i7-12700K, 32GB RAM. Idle: 5% CPU. Streaming 1080p60: 20-30% CPU. Santai.

RAM usage? Minimal 600-800MB di idle, bisa tembus 1.5GB kalau scene kompleks dengan banyak browser source. Untuk PC 8GB RAM, ini deal breaker.

Yang Saya Sukai (Meski Berat)

Sejujurnya, UI/UX Streamlabs itu chef’s kiss untuk pemula. Drag-and-drop alert box, tema overlay siap pakai, integrasi sama Streamlabs Cloud. Semua tinggal klik, ga perlu coding.

Baca:  7 Software Edit Video Gratis Tanpa Watermark Untuk Laptop Spek Rendah

Fitur Theme Library mereka bikin streaming jadi instan. Pilih tema, install, semua (alert, overlay, chat box) otomatis masuk. Buat yang ga mau ribet desain, ini life saver. Tapi ingat: setiap elemen itu nambah beban CPU.

Alternatif yang Lebih “Sahabat”

Obsesi saya cari solusi akhirnya ngelempar saya ke OBS Studio. Tes yang sama di PC Kentang: CPU usage turun 20-30%. Kenapa? Karena OBS itu lean and mean. No bloatware, no background service yang nggak perlu.

Streamlabs sebenernya fork dari OBS, tapi mereka nambahin layer “kemudahan” yang bikin berat. Kalau lo cuma butuh streaming sederhana, OBS lebih masuk akal. Tapi kalau lo butuh fitur monetisasi instant, Streamlabs masih menang.

Tips Optimasi Praktis (Kalau Tetap Mau Pakai)

Saya akhirnya nemu cara “nyurvivor” pakai Streamlabs di PC kentang:

  • Matikan preview: Klik kanan preview > Disable. Bisa save 10-15% CPU.
  • Kurangi browser source: Tiap browser source itu seperti tab Chrome. Hapus yang nggak penting.
  • Gunakan NVENC/AMF: Offload encoding ke GPU. Setting > Output > Encoder. GTX 1050 keatas udah cukup.
  • Scene minimalis: Maksimal 3-4 source per scene. Jangan sampe 10+ source.
  • Streamlabs versi lite: Ada versia lama (SLOBS 0.27) yang lebih ringan, tapi riskan.

Paling efektif: streaming tanpa preview sama sekali. Ya, lo streaming buta. Tapi FPS game lo aman.

Kapan Streamlabs Cocok?

Setelah paham bebannya, saya pake Streamlabs cuma di kasus spesifik:

Kalau lo streamer yang fokus ke interaksi—banyak alert, donation goal, poll—dan punya PC mid keatas (minimal Ryzen 5 / i5 gen 9 + 16GB RAM), Streamlabs worth it. UI-nya ngebuatin lo produktif.

Tapi kalau lo gamer murni yang cuma butuh streaming gameplay + webcam, pakai OBS Studio. Lebih ringan, lebih stabil, dan lo bisa nambah plugin kalau perlu.

Baca:  5 Software Animasi 2D Terbaik Untuk Pemula Yang Ingin Jadi Animator

Verdict Akhir dari Seseorang yang Pernah Frustasi

Streamlabs Desktop bukan untuk PC kentang. Titik. Klaim “ramah pemula” mereka berhenti di UI, bukan performa. Di PC spek rendah, lo bakal pilih: streaming atau main game? Karena dua-duanya susah.

Kalau budget lo terbatas, upgrade RAM jadi 16GB dulu, baru pertimbangkan Streamlabs. Atau belajar OBS Studio dari awal—lebih susah, tapi PC lo bakal makasih.

TL;DR: PC kentang? Hindari Streamlabs. PC mid-high? Streamlabs oke untuk produktivitas. Tapi OBS Studio tetap raja efisiensi.

Streaming itu soal trade-off. Pilih mana: kenyamanan editing atau kenyamanan gaming? Saya udah pilih OBS untuk PC kentang, dan baru balik ke Streamlabs setelah upgrade. Itu aja, real talk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Audacity Vs Adobe Audition: Apakah Software Gratis Cukup Untuk Podcast?

Pernah nggak sih, lagi asyik-asyik edit podcast di Audacity, terus tiba-tiba crash…

Review Fl Studio Mobile: Bisakah Bikin Musik Profesional Cuma Pakai Hp?

Pernah denger anggapan “buat musik di HP cuma buat eksperimen, nggak mungkin…

Capcut Pc Vs Adobe Premiere Pro: Bisakah Capcut Menggantikan Software Profesional?

Biaya langganan Adobe Premiere Pro yang bikin dompet jebol tiap bulan pasti…

5 Software Animasi 2D Terbaik Untuk Pemula Yang Ingin Jadi Animator

Mau jadi animator tapi bingung milih software yang nggak bikin pusing? Tenang,…