Kalau ada klien yang bilang, “Bang, tolong bikinin website pakai Wix aja, kan gampang,” aku biasanya diam sejenak sambil napas panjang. Tiga bulan kemudian, teleponnya pasti masuk lagi. Minta tolong migrasi. Itu pola yang terulang. Wix memang terlihat manis di permukaan. Drag-and-drop-nya menggiurkan. Tapi setelah mengelola belasan proyek di sana, aku bisa bilang: there’s no such thing as free lunch. Bayar mahal di awal, atau bayar lebih mahal nanti.
Performance Lambat yang Nggak Kamu Duga
Wix punya masalah kronis: website-nya berat. Template-template mereka penuh dengan script bawaan yang nggak bisa dihapus. Bahkan halaman kosong aja bisa nyentuh 2-3 MB load size. Kalau kamu kreator yang biasa upload video showcase atau portofolio HD, bersiap-siap deh. Speed test di PageSpeed Insights bakal jadi mimpi buruk.

Aku pernah bikin portofolio fotografer di Wix. Foto-fotonya sudah dikompres mati-matian. Tapi score mobile-nya tetap di bawah 40. Kenapa? Karena Wix nge-load semua animasi, font, dan library yang mungkin nggak perlu. Kamu nggak punya kontrol untuk disable fitur-fitur itu. Di WordPress, bisa aku bersihin manual. Di Wix? Sudah jadi paket.
CDN dan Caching Terbatas
Mereka pakai CDN bawaan, tapi kamu nggak bisa tweak setting-nya. Cache purging? Hanya bisa tunggu otomatis expire. Kalau kamu update konten penting dan mau langsung terlihat, kadang harus nunggu 15-30 menit. Buat kreator yang suka update portofolio on-the-fly, ini bikin kesel.
SEO: Bukan Cuma Masalah Meta Tag
Wix punya Wix SEO Wiz. Terlihat canggih. Tapi cuma di permukaan. Struktur data schema-nya otomatis, tapi nggak bisa di-custom. Kalau kamu mau implement advanced schema markup untuk project kreatifmu, misalnya VideoObject atau CreativeWork, nggak bisa.
URL structure? Dulu masih bisa di-edit. Tapi sekarang tetap ada batasan. Kamu nggak bisa bikin URL flat seperti zolaren.com/project-name. Selalu ada /post/ atau /page/ di tengah. Bikin kurang clean.

Robots.txt? Bisa edit, tapi terbatas. Sitemap? Otomatis, tapi nggak bisa split manual. Buat website besar dengan ribuan gambar portofolio, ini jadi masalah indexing.
Core Web Vitals Bakal Jadi Momok
Google sekarang strict banget soal Core Web Vitals. LCP (Largest Contentful Paint) di Wix susah dioptimasi karena kamu nggak bisa prioritisasi resource. FID (First Input Delay) juga sering kuning karena JavaScript blocking. Ini bukan masalah teknis semata. Ini soal ranking Google untuk website portofoliomu.
Migrasi? Siap-siap Ulang dari Nol
Ini yang paling bikin miris. Wix adalah closed platform. Kamu nggak bisa export database-nya. Semua konten, struktur, dan desain terkunci di sana.
Pernah ada klien e-commerce yang growth-nya melebihi 200 order per bulan. Dia mau migrasi ke Shopify karena fitur payment gateway lokal. Prosesnya? Copy-paste manual semua produk. Tidak ada tool import/export yang proper. Gambar harus re-upload. Deskripsi harus reformat. 500 produk, bayangin.
Migrasi dari Wix itu seperti pindah rumah tapi nggak boleh bawa furnitur. Semua harus beli baru.
Bahkan migrasi ke WordPress pun harus pakai scraper tool yang risky. URL structure beda, redirect manual ribet. Kalau punya ratusan blog post, siap-siap begadang.
Harga yang Nggak Sebanding dengan Value
Mari kita jujur. Wix nggak murah. Plan paling murah yang nggak ada iklan adalah Combo: $16/bulan. Tapi cuma 2GB bandwidth dan 3GB storage. Untuk kreator video? Cukup buat 3-4 video showcase HD aja.
Plan Unlimited: $22/bulan. Bandwidth unlimited tapi storage cuma 10GB. Kalau portofoliomu ratusan project foto RAW, ini nggak cukup. Bandingkan:
| Fitur | Wix Unlimited | WordPress Hosting (Contoh: Kinsta) | Webflow CMS |
|---|---|---|---|
| Harga | $22/bulan | ~$30/bulan | $23/bulan |
| Storage | 10 GB | 10 GB SSD | 50 GB |
| Bandwidth | Unlimited | ~50k visits | 200 GB |
| Custom Code | Terbatas | Full | Full |
| Migrasi | Susah | Mudah | Mudah |

Kalau sudah bayar mahal, kamu harusnya punya full control. Tapi di Wix, kamu masih “nyewa” platform. Nggak seperti WordPress yang punya hosting dan bisa pindah kapan saja.
Custom Code: Jangan Harap Bisa Bebas
Wix punya Wix Code (sekarang Velo). Tapi itu bukan JavaScript murni. Kamu harus pakai framework mereka. Mau inject script analytics custom? Bisa, tapi terbatas. Mau modify DOM secara langsung? Nggak bisa.
Untuk kreator yang mau integrasikan API kustom dari workflow internal, ini jadi batu sandungan. Aku pernah coba integrasi Wix dengan DAM (Digital Asset Management) internal kantor. API mereka terbatas, documentation-nya kurang. Akhirnya harus pakai iframe. Hasilnya? UX jelek.
CSS? Bisa custom, tapi nggak semua elemen bisa di-target. Kamu nggak bisa override style bawaan Wix kalau mereka lock elementnya. Ini bikin brand guideline susah diimplementasikan 100%.
Mobile Responsiveness: Auto tapi Nggak Sempurna
Wix punya mobile editor terpisah. Terlihat fleksibel. Tapi sebenarnya kamu harus desain ulang semua elemen untuk mobile. Tidak benar-benar responsive otomatis. Kalau lupa cek, tampilan di tablet bisa jadi berantakan.
Lebih parahnya, Google indexing mobile-first. Kalau versi mobile-mu berantakan, ranking desktop juga ikut turun. Aku pernah lihat website fotografer yang di desktop cakep, tadi mobile-nya tombol CTA-nya ilang di bawah layar. Ga bisa discroll. Konversi drop 60%.
Terjebak di Ekosistem App Market
Butuh fitur booking? Install app. Butuh live chat? Install app. Butuh membership? Install app. Semua pakai app. Yang gratis biasanya limited. Yang premium? Bayar lagi di atas langgananmu.
Bayar $22/bulan belum termasuk app premium. App booking calendar bagus? $10-20/bulan. Live chat? $5-15/bulan. Akhirnya, biaya bisa nyentuh $50/bulan cuma untuk website portofolio. Padahal di WordPress, plugin premium kayaknya cuma one-time fee atau tahunan lebih murah.
Bandwidth & Storage: Limit Tersembunyi
“Unlimited bandwidth” di plan mahal? Baca lagi TOS-nya. Ada fair usage policy. Kalau website-mu tiba-tiba viral karena project showcase di-share Behance, Wix bisa throttle bandwidth-mu. Website jadi lambat atau down. Mereka nggak sebutkan angka pasti, tapi pernah ada kasus website event yang viral di TikTok, tiba-tiba down di jam-jam kritis karena Wix detect “unusual traffic”.
Storage 10GB di plan Unlimited? Untuk kreator video, itu cuma cukup untuk 2-3 project reel 4K. Kamu harus compress habis-habisan. Kualitas jadi korban.
Plan Gratisan: Iklan Memalukan
Kalau kamu coba-coba pakai plan gratisan, Wix akan pasang iklan mereka di website-mu. Bukan iklan biasa. Iklan besar, mencolok, dan nggak bisa di-hide. Bayangin portofolio desain premium-mu, tapi di header ada banner iklan Wix. Klien bakal mikir: “Ini profesional atau nggak sih?”
Domain juga nggak custom. Harus pakai username.wixsite.com. Buat branding, ini bunuh diri. Jatuhnya nggak profesional. Kalau mau serius, kamu harus upgrade. Jadi plan gratisan cuma buat trial, bukan produksi.
Kesimpulan: Kapan Wix Masuk Akal?
Setelah semua ini, apakah Wix jadi platform jahat? Nggak juga. Ada use case spesifik di mana Wix masih bisa dipakai:
- Website event one-time (seminar, workshop) yang cuma butuh exist 3-6 bulan
- Portofolio super sederhana untuk mahasiswa yang belum punya budget hosting
- Prototyping cepat sebelum migrasi ke platform serius
Tapi kalau kamu kreator yang serius build personal brand, mau scale business, atau butuh full control, Wix bukan pilihan tepat. Investasi waktu dan uang di WordPress atau Webflow bakal lebih worth it di jangka panjang.
Bayar mahal sekali, nyesel selamanya. Mending pusing di awal, tapi punya asset yang bisa dibawa kemana-mana.
Pilihan ada di tanganmu. Kalau mau cepat dan nggak mau ribet, tapi siap kompromi banyak hal, Wix bisa jadi jalan pintas. Tapi kalau mau full control dan scalability, jangan. Aku sendiri sekarang cuma pakai Wix untuk project under $500 dengan timeline 2 minggu. Sisanya? WordPress atau Webflow. Demi klien, demi portofolioku sendiri.



