Tagihan Creative Cloud datang lagi tiap bulan, dan dada ini sesak melihat potongan yang bikin dompet menjerit. Kita semua pernah di sana—terjebak di ekosistem Adobe karena “semua orang pakai itu” sementara di sisi lain ada Affinity Photo yang cuma sekali bayar. Pertanyaannya bukan lagi “apakah Affinity bagus?” tapi “seberapa banyak fitur Photoshop yang benar-benar kita pakai sehari-hari?”

Real Talk: Masalahnya Bukan Harga, Tapi Value

Adobe Photoshop sekarang Rp 200 ribuan per bulan. Kalau hitung-hitungan kasar, dalam dua tahun kamu sudah mengeluarkan Rp 5 juta hanya untuk satu software. Affinity Photo? Sekali bayar Rp 700 ribuan—seumur hidup, update gratis. Itu perbedaan 7x lipat dalam 24 bulan.

Tapi jangan tertipu. Hemat bukan berarti murahan. Setelah pakai Affinity Photo intensif selama 18 bulan untuk proyek klien dari retouching foto produk hingga digital painting, saya bisa bilang: 90% fitur krusial Photoshop ada di sini. Sisanya? Biasanya gimmick yang jarang kita sentuh.

Fitur Sehari-hari yang 1:1 Identik (Tanpa Perlu Belajar Ulang)

Layer system di Affinity Photo 95% mirip Photoshop. Blend modes, opacity, layer mask, adjustment layers—semua ada di tempat yang sama. Shortcut keyboard? Bisa di-import langsung. Kamu bakal merasa seperti pulang ke rumah baru tapi furniturnya sama persis.

Selection tools juga brutal akurat. Quick Selection, Magic Wand, bahkan Pen Tool punya behavior yang identik. Kalau biasanya pakai Select and Mask di Photoshop, di Affinity ada Refine Selection yang hasilnya nggak kalah presisi untuk rambut dan fur.

Healing Brush, Clone Stamp, Patch Tool—semua bekerja dengan cara yang sama. Saya pernah buka file PSD 2GB berisi 80 layer untuk retouching fashion, dan Affinity Photo membukanya dalam 45 detik tanpa corrupt. Semua layer adjustment, smart object, bahkan layer style tetap bisa diedit.

Baca:  Review Capture One Pro: Kenapa Fotografer Studio Lebih Memilih Ini Daripada Lightroom?

File Compatibility yang Nyaris Sempurna

Ini deal breaker utama. Affinity Photo bisa baca dan tulis file PSD dengan layer intact. Kirim file ke klien yang masih pakai Photoshop? Tidak masalah. Mereka nggak akan tahu bedanya. Satu-satunya yang hilang adalah beberapa efek khusus seperti Smart Filter kustom—tapi itu jarang banget dipakai di lapangan.

Workflow Nyata: Apa yang Berubah dan Apa yang Tidak

Yang paling terasa beda adalah speed. Affinity Photo jauh lebih ringan. Buka aplikasi dalam 3 detik di SSD, sementara Photoshop butuh 12 detik sambil loading font dan plugin. Saat editing foto 50MP dari Sony A7R IV, Affinity lebih responsif saat brush stroke, zoom, dan pan.

Tapi ada trade-off. Adobe punya Camera Raw yang lebih canggih dibanding Develop Persona di Affinity. Kalau kamu fotografer yang ketergantungan heavy dengan gradient filter dan local adjustment di ACR, ini bakal terasa. Solusinya? Proses raw di Capture One atau Lightroom, lalu ekspor ke TIFF untuk editing lanjutan di Affinity.

Plugin dan Ekosistem

Ini titik lemah Affinity. Kita kehilangan akses ke Nik Collection (gratis dari Google/DxO), Topaz Labs, dan banyak plugin Photoshop. Tapi sejak versi 2.0, Affinity sudah support select plugin Photoshop—termasuk beberapa dari Nik Collection yang masih bekerja. Bukan 100%, tapi cukup untuk sebagian besar kebutuhan.

Pain Points yang Harus Diterima (Jujur, Nggak Dibungkus)

Actions Photoshop? Tidak ada. Kamu harus re-record macro dari nol di Affinity. Biasanya butuh 2-3 jam untuk re-create 20 actions yang biasa dipakai. Sekali jadi, macro Affinity malah lebih powerful karena bisa di-save sebagai file terpisah dan dibagikan.

3D features, video timeline, dan generative AI (Firefly) jelas nggak ada. Kalau kerjaanmu melibatkan 3D text mockup atau video editing dasar, kamu masih butuh Photoshop. Tapi untuk pure photo editing, compositing, dan digital painting? Affinity lebih dari cukup.

Baca:  5 Tools Hapus Background Foto Otomatis Terbaik (Lebih Rapi Dari Remove.Bg)

Bug minor masih ada. Pernah sekali layer mask jadi corrupt setelah save PSD. Tapi terjadi sekali dalam 18 bulan, dan backup file .afphoto selamatkan proyek. Adobe juga pernah crash lebih sering dari itu, jadi ini acceptable.

Kasus Spesifik: Kapan Pindah, Kapan Tetap

Pindah ke Affinity Photo kalau:

  • Kamu fotografer, retoucher, atau digital artist yang fokus pada image manipulation
  • 80% kerjaanmu adalah compositing, masking, color grading, dan retouching
  • Kamu punya workflow tetap dan nggak butuh integrasi ekosistem Adobe
  • Tagihan Creative Cloud sudah terasa memberat

Tetap di Photoshop kalau:

  • Kamu butuh integrasi After Effects, Premiere, atau Lightroom dengan seamless
  • Kerjaanmu melibatkan 3D, video timeline, atau generative AI Firefly
  • Kamu ketergantungan heavy dengan plugin third-party khusus (misal: ekstensi arsitektur)
  • Klien atau studio tempatmu kerja mewajibkan file PSD dengan smart filter intact

Spesifikasi dan Performa Nyata

AspekPhotoshop 2024Affinity Photo 2.5
HargaRp 200.000/bulanRp 700.000/sekali
Ukuran Install4.5 GB650 MB
Waktu Buka (SSD)12 detik3 detik
File PSD SupportNative98% kompatibel
RAM Usage (50MP file)3.2 GB2.1 GB
Macro/ActionsActions (.atn)Macro (.afmacro)
Update ModelBulanan (wajib)Gratis (optional)

Verdict: Hemat Tanpa Korban Fitur? Bisa, Tapi…

Affinity Photo bukan Photoshop killer. Tapi ini adalah Photoshop alternative yang paling mature di pasaran. Kalau kamu kreator independen yang butuh editing power tanpa baggage ekosistem Adobe, pindah adalah keputusan finansial yang paling masuk akal dalam 5 tahun terakhir.

Saya sendiri masih keep satu lisensi Photoshop (pakai tahunan) untuk kolaborasi dengan studio besar. Tapi 90% kerjaan sekarang di Affinity Photo. Hasilnya? Rp 2.4 jutaan saved per tahun, dan klien nggak pernah complain soal kualitas.

Transisi butuh waktu 2-3 minggu untuk fully comfortable. Tapi setelah lewat fase itu, kamu akan bertanya-tanya kenapa nggak pindah lebih cepat. Dompet kamu yang akan berterima kasih, dan klien tetap bahagia dengan deliverable yang sama berkualitasnya.

Intinya: hemat biaya tanpa korban fitur itu mungkin, asal kamau tau fitur mana yang benar-benar kamu pakai. Coba Affinity Photo 30 hari gratis, re-create satu proyek besar, dan lihat sendiri apakah ada yang missing. Kemungkinan besar, jawabannya adalah tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Capture One Pro: Kenapa Fotografer Studio Lebih Memilih Ini Daripada Lightroom?

Kalau kamu pernah ngeliat fotografer studio ngomongin “tethering” sambil cekrek-cekrek, lalu ngeluh…

Photoshop Elements 2025: Solusi Edit Foto Untuk Fotografer Pemula?

Kalau kamu fotografer pemula yang pengen edit foto tapi ngerasa Photoshop terlalu…

Review Midjourney V6: Sebagus Apa Hasilnya Dibandingkan Dall-E 3?

Midjourney v6 rilis, dan tiba-tiba semua konsep art gue yang pake DALL-E…

Lightroom Mobile Vs Vsco: Mana Yang Filter Estetiknya Paling Natural?

Sebagai kreator yang tiap hari berhadapan dengan puluhan foto untuk konten, aku…