Bayar Rp600 ribu per bulan tapi cuma pakai Photoshop dan Premiere? Saya juga begitu. Setelah 7 tahun jadi “budak” Adobe, akhirnya saya putuskan berhenti langganan Creative Cloud tahun lalu. Alasannya simple: terlalu mahal untuk pemakaian yang nggak maksimal, dan alternatifnya sekarang sudah good enough—bahkan lebih ringan.

Realita Harga yang Nggak Masuk Akal

Mari kita hitung bareng. Creative Cloud All Apps di Indonesia sekarang sekitar Rp600-800 ribu per bulan tergantung promo. Dalam setahun, itu artinya hampir Rp8 juta. Padahal, rata-rata kreator kayak saya cuma aktif di 2-3 apps saja.

Kalau cuma butuh Photoshop dan Lightroom, paket fotografi dulu Rp200 ribuan. Sekarang? Dicabut. Dipaksa naik ke All Apps. Makin lama, makin terasa kayak money grab ketimbang inovasi.

Saya pernah ngeluarin Rp8 juta/tahun hanya untuk buka file .PSD dan export video 1080p. Setelah dihitung, itu setara biaya upgrade PC yang lebih layak.

Subscription Fatigue: Nggak Pernah Benar-benar “Punya”

Ini yang paling bikin bete. Model langganan berarti kamu nggak pernah benar-benar memiliki software-nya. Berhenti bayar sebulan? Bye-bye, nggak bisa buka file project. Padahal file itu hasil kerja keringat sendiri.

Bayangkan stressnya: deadline menumpuk, client pending payment, tapi subscription renewal lagi. Jadi fokusnya bukan di karya, tapi di cash flow. Untuk freelancer dengan income nggak stabil, ini beban mental.

Performa yang Semakin “Bloat”

Creative Cloud sekarang bukan cuma software, tapi ecosystem yang nempel di setiap sudut sistem. Background services, sync yang nggak diminta, update otomatis saat lagi deadline. Laptop saya yang i7-7700HQ + 32GB RAM aja masih terasa berat buka After Effects 2024.

Baca:  Review Jasper Ai Bahasa Indonesia: Apakah Hasil Tulisannya Enak Dibaca?

Belum lagi ukuran installasi yang bisa tembus 30-50GB per aplikasi. Bandingkan dengan alternatif yang cuma 1-2GB tapi udah 80% fitur sama. Kenapa harus ngasih space mahal untuk hal yang nggak kepakai?

Alternatif yang Sudah “Dewasa” di 2024

Sekarang kita bahas yang paling penting: migrasi ke mana? Saya udah coba hampir semua, dan ini rekomendasi real-world berdasarkan workflow saya.

Untuk Desain Grafis & Ilustrasi

Affinity Suite (Serif) adalah jawaban paling mantap. One-time purchase sekitar Rp1,2 juta untuk Photo (ganti Photoshop) dan Designer (ganti Illustrator). File .PSD dan .AI bisa dibuka dan disave kembali. Performance? Kencang banget, bahkan di laptop entry-level.

  • Affinity Photo: 90% fitur Photoshop, termasuk non-destructive editing, layer style, bahkan ada persona khusus untuk developing RAW.
  • Affinity Designer: Vector editing yang lebih intuitive dari Illustrator. Nggak ada bloat, tools ada di tempat yang masuk akal.
  • Affinity Publisher: Untuk layout, ganti InDesign.

Untuk yang free, Photopea (online) bisa buka dan edit .PSD langsung di browser. Nggak perlu install apa-apa. Buat edit cepat di warnet atau laptop orang, ini penyelamat.

Untuk Video Editing & Motion Graphics

DaVinci Resolve adalah game changer. Versi gratisnya udah overkill untuk 90% creator. Color grading, Fusion untuk VFX, Fairlight untuk audio—all in one. Sekali belajar, nggak pernah ke Premiere lagi.

Keunggulan lain: one-time purchase Rp4 jutaan untuk Studio version kalau butuh 4K+ atau GPU acceleration lebih. Tapi versi gratis? Udah bisa export 4K, nggak ada watermark. Adobe Premiere Pro mana ada begitu?

Kalau di Mac, Final Cut Pro (Rp3 juta sekali bayar) adalah investasi terbaik. Magnetic timeline-nya bikin editing 2-3x lebih cepat. Tapi ya, exclusive untuk ekosistem Apple.

Untuk Photo Editing & Color Grading

Capture One adalah rival Lightroom yang lebih powerful dalam color grading. Nggak perlu subscription—ada versi perpetual license. Tapi kalau budget terbatas, Darktable (gratis, open-source) hasilnya bikin terkejut. Interface-nya memang butuh adaptasi, tapi performa dan quality-nya setara.

Baca:  Top 5 Plugin Wordpress Page Builder: Elementor Vs Divi Untuk Web Desainer

Untuk AI-powered editing, Luminar Neo punya one-time purchase. Features kayak sky replacement atau AI masking jalan lebih cepat dari Photoshop.

Untuk 3D & Motion Design

Blender udah jelas. Gratis, tapi bisa ngalahin Maya atau Cinema 4D untuk modelling dan animation. Eevee render engine-nya real-time, bikin iterasi cepat. Komunitasnya besar, tutorialnya melimpah.

Kalau butuh motion graphics 2D, Apple Motion (Rp500 ribuan, sekali bayar) bisa buat template kayak After Effects tapi render 10x lebih cepat.

Perbandingan Harga Nyata

SoftwareHargaModelKekurangan Utama
Adobe CC All AppsRp7,8 juta/tahunSubscriptionNggak pernah punya
Affinity Suite (3 apps)Rp3,6 juta (sekali)PerpetualNggak ada cloud sync
DaVinci Resolve StudioRp4 juta (sekali)PerpetualLearning curve curam
Final Cut ProRp3 juta (sekali)PerpetualMac only
BlenderGratisOpen SourceInterface intimidating

Workflow Hybrid: Cara Saya Sekarang

Nggak perlu 100% lepas dari Adobe. Saya pakai workflow hybrid. Affinity Photo untuk 90% editing, tapi kalau client kirim file .PSD komplek dengan smart object yang nggak compatible, saya pakai Adobe Creative Cloud “on-demand”—langganan 1 bulan kalau ada proyek besar, lalu stop lagi.

Untuk video, DaVinci Resolve jadi andalan. Tapi untuk kolaborasi dengan editor lain yang masih di Premiere, saya export XML timeline. Kompatibilitasnya udah 95% akurat.

File management? Saya pindah ke Dropbox + NAS. Lebih murah dan fleksibel dari Adobe Cloud. Backup otomatis, access dari mana aja.

Kunci migrasi: Jangan perfect, tapi cukup. Adobe masih raja untuk studio besar dengan pipeline kolaboratif. Tapi untuk solo creator? Alternatif sekarang lebih masuk akal.

Verdict: Berhenti atau Tetap?

Jawabannya: It depends. Kalau kamu kerja di agency besar dengan tim 10+ orang, Adobe CC masih wajib. Kolaborasi file, shared library, dan ecosystem-nya nggak ada tandingan.

Tapi kalau kamu freelancer, content creator, atau studio kecil dengan budget terbatas? Berhenti adalah keputusan terbaik. Investasi sekali di Affinity + DaVinci Resolve bisa dipakai 5 tahun ke depan tanpa tambahan biaya. Itu saving Rp40 jutaan.

Saya nggak menyesal. Malah, performa laptop jadi lebih kencang, file project lebih rapi, dan yang paling penting: mindset jadi lebih kreatif karena nggak dibatasi “harus balik modal” tiap bulan.

Mulai sekarang, coba trial versi gratisnya. DaVinci Resolve, Affinity, Photopea, Darktable. Test 1 bulan. Kalau 80% workflow kamu tercover, ya udah—cabut aja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Top 5 Plugin WordPress Page Builder: Elementor Vs Divi Untuk Web Desainer

Pilihan antara Elementor dan Divi itu ibarat milih antara speedboat dan yacht.…

Kelemahan Notion Yang Jarang Dibahas: Alasan Saya Pindah Ke Obsidian

Bayangin lagi deadline client mepet, lo butuh catatan lama buat referensi, tapi…

Review Jasper Ai Bahasa Indonesia: Apakah Hasil Tulisannya Enak Dibaca?

Sebagai kreator yang setiap hari bergelut dengan brief klien, script video, dan…

Kelemahan Wix Website Builder: Hal yang Harus Diketahui Sebelum Bayar Langganan

Kalau ada klien yang bilang, “Bang, tolong bikinin website pakai Wix aja,…