Kalau kamu pernah ngeliat fotografer studio ngomongin “tethering” sambil cekrek-cekrek, lalu ngeluh Lightroom lagi lemot, mereka lagi ngomongin Capture One Pro. Saya ngerti banget rasanya. Di studio, waktu itu uang. Klien nunggu, lampu standby, mood model bisa turun. Nah, ini kenapa banyak fotografer studio pindah ke Capture One—dan kenapa saya akhirnya ikutan.
Tethering: Nyambung Kamera, Langsung Ngebut
Ini alasan utama. Lightroom punya tethering, tapi rasanya kayak nebeng internet warnet. Lambat, sering putus, kadang file nggak muncul. Capture One? Nyambung kabel, bam! Langsung muncul di layar. Bukan sekadar muncul, tapi dengan preview yang tajam dan responsif.
Bayangin situasi: Kamu potret pakai Phase One atau Canon R5, 50MB per file. Di Lightroom, tiap shot loading-nya bikin ngantuk. Di Capture One, preview full-res muncul kurang dari 2 detik. Beneran. Saya pernah hitung. Klien bisa langsung lihat detail rambut, mata, bahkan tekstur kulit—real-time.

Fitur Capture Pilot juga bikin hidup lebih gampang. Klien bisa lihat foto langsung dari iPad mereka sambil kamu motret. Nggak perlu lagi mereka numpuk di belakang monitor. Ini nggak cuma soal gengsi, tapi efisiensi komunikasi. Mereka bisa langsung bilang, “Mata terlalu gelap,” atau “Sudut ini kurang,” sementara kamu masih di set.
Color Science: Kenap Kulit Jadi Lebih “Bersih”
Lightroom punya warna yang—ya biasa saja. Oke untuk landscape, tapi untuk kulit manusia, seringkali cast warna aneh. Hijau dari lampu, magenta dari baju, atau kuning kelewatan. Capture One punya engine warna yang beda.
Mereka punya Keystone dan Color Editor yang lebih canggih. Tapi yang paling kerasa: skin tone jauh lebih natural. Saya pernah bandingin raw file yang sama, Canon R6, Lightroom vs Capture One. Di Lightroom, butuh 5-6 adjustment buat dapet kulit “net”. Di Capture One, cukup Basic Color Editor, drag satu kali, done.
Tambahan lagi, default profile kamera di Capture One lebih “kaya”. Kalau Lightroom sering bikin foto terasa “dat”, Capture One langsung kasih karakter yang lebih tajam dan kontras—tapi tetap natural. Ini penting buat fotografer fashion atau portrait yang perlu impress klien sejak shot pertama.
Layer-Based Editing: Photoshop Lite di Dalam
Ini yang bikin saya kepincut. Lightroom punya adjustment brush, tapi masih terasa kaku. Capture One punya Layers dan Masks yang mirip Photoshop. Bisa buat layer untuk dodge & burn, satu layer khusus untuk mata, satu lagi untuk rambut.
Keuntungannya: Non-destructive dan fleksibel. Kamu bisa ubah opacity setiap layer. Kalau salah, nggak perlu undo semua, cukup tweak layer itu saja. Saya biasanya bikin 3-4 layer standar: satu untuk eksposur global, satu untuk mata, satu untuk highlight rambut, satu untuk vignette.
Pernah ada kasus: klien minta “mata lebih cerah” setelah revisi ketiga. Di Lightroom, saya harus reset brush lama, takut nggak konsisten. Di Capture One, tinggal buka layer “Mata”, naikin exposure +0.3, selesai. Semua adjustment lain tetap utuh.
Performance: Kencang Banget untuk File Besar
Ngobrolin performa, ini bukan sekadar marketing gimmick. Capture One memang lebih kencang—terutama kalau pakai medium format. Saya pakai Fujifilm GFX 100S, file raw sekitar 100-120MB. Lightroom mulai ngelag di batch 50-100 file. Scrolling jadi patah-patah.
Capture One? Smooth. Bahkan di MacBook Air M1, 8GB RAM. Beneran. Mereka punya hardware acceleration yang lebih agresif. Zoom 100% hampir instant. Lightroom masih rendering, kamu sudah bisa edit.
Tapi ada catatan: performa ini terasa kalau kamu punya SSD. Kalau masih pakai HDD, ya sama aja lemot. Jadi investasi SSD itu wajib sebelum pindah.
Customizable Interface: Bikin Sendiri Workstation-mu
Capture One ngasih kebebasan buat drag-drop panel kemana aja. Mau tools di kiri, preview di kanan, bisa. Mau sembunyikan semua panel, tinggal teken Tab. Ini berguna buat fotografer studio yang punya dual monitor.
Saya biasanya setup: monitor utama buat preview full-screen, monitor kedua untuk tools dan thumbnail. Semua panel bisa dipindahin. Lightroom? Fixed layout. Nggak bisa diapa-apain.

Tambahan, ada Workspace Presets. Bisa bikin preset untuk tethering, preset untuk editing di rumah, preset untuk retouch. Sekali klik, layout berubah. Ini nggak cuma soal estetika, tapi kecepatan kerja.
Harga: Mahal, Tapi Bisa Dibayar Sekali
Capture One punya model lisensi: subscription atau perpetual. Lightroom cuma subscription. Kalau kamu tipe yang benci bayar bulanan, Capture One punya opsi beli sekali, sekitar IDR 5 jutaan (versi 16). Mahal di awal, tapi 3-4 tahun nggak perlu bayar lagi.
Tapi ada jebakan: major version upgrade harus bayar lagi. Dari versi 15 ke 16, ya bayar. Dari 16 ke 16.x, gratis. Lightroom? Selalu update gratis selama subscribe. Jadi hitung-hitungan tetap perlu.
Bandingin: Lightroom + Photoshop bundle, $9.99/bulan. Capture One Pro, $24/bulan atau $299 sekali. Kalau cuma butuh editing, Capture One cukup. Kalau butuh compositing, ya tetep butuh Photoshop.
Lightroom vs Capture One: Tabel Jujur
| Fitur | Capture One Pro | Adobe Lightroom |
|---|---|---|
| Tethering Speed | Super cepat, stabil | Lambat, sering crash |
| Color Science | Natural, kulit lebih bersih | Butuh tweak lebih banyak |
| Layer Editing | Ada, mirip Photoshop | Adjustment brush kaku |
| Performance (Large Files) | Smooth di 100MB+ | Lag di 50MB+ |
| Interface | Full custom | Fixed |
| Harga | $24/mo atau $299 perpetual | $9.99/mo (bundle PS) |
| Plugin Ecosystem | Terbatas | Luas banget |
| Cloud Sync | Tidak ada | Ada, seamless |
Kekurangan: Nggak Semua Indah
Sejujurnya, Capture One bukan tanpa cela. Plugin ecosystem-nya terbatas. Kalau di Lightroom ada VSCO, RNI Film, ribuan presets, di Capture One pilihannya sedikit. Ada, tapi nggak sebanyak.
Nggak ada cloud sync. Kalau kamu biasa edit di laptop, terus lanjut di iPad, lupa saja. Capture One masih desktop-centric. Lightroom punya Creative Cloud, itu nyaman banget buat mobile workflow.
Learning curve-nya juga lebih curam. Butuh 1-2 minggu buat terbiasa. Shortcut beda, konsep layer butuh adaptasi. Banyak teman saya nyerah di hari ketiga, balik ke Lightroom karena “ribet”. Padahal cuma butuh sabar.
Siapa yang Harus Pindah?
Pindah ke Capture One itu wajib kalau:
- Kamu fotografer studio dengan klien yang nunggu di set.
- Pakai medium format (Fujifilm GFX, Phase One).
- Butuh color accuracy tinggi untuk fashion atau produk.
- Sering tethering dan butuh real-time feedback.
Tapi nggak usah pindah kalau:
- Kamu fotografer travel yang butuh cloud sync dan mobile editing.
- Budget terbatas dan cuma butuh editing dasar.
- Reliant banget sama plugin-plugin Lightroom spesifik.

Kesimpulan: Investasi untuk Serius
Capture One Pro itu bukan sekadar software editing. Ini investasi buat fotografer studio yang menghargai waktu dan kualitas. Bedanya kayak naik motor bebek vs mobil untuk antar barang. Keduanya bisa, tapi kalau barangnya banyak dan mahal, mobil jelas lebih masuk akal.
Saya sendiri masih pakai Lightroom untuk project travel pribadi. Tapi untuk client work, especially studio, Capture One jadi default. Klien lebih impressed, workflow lebih cepat, dan hasil memang beda.
Kalau budgetmu cukup dan serius di studio, coba versi trial 30 hari. Jangan coba 1-2 hari, tapi beneran pakai di project nyata. Baru deh rasain bedanya.




