Pilihan antara Elementor dan Divi itu ibarat milih antara speedboat dan yacht. Keduanya bisa antar kamu ke pulau yang sama, tapi sensasinya beda total. Saya udah pakai keduanya buat lebih dari 150 proyek klien dalam 5 tahun terakhir, dan hari ini saya mau spill semua kotorannya—bukan cuma fitur-fitur cantik di marketing page mereka.

The Interface: Drag-and-Drop yang Bikin Cepat atau Yang Bikin Pusing?

Ketika buka Elementor, kamu langsung disambut panel kiri yang penuh. Semua widget terlihat, semua setting terbuka. Ini blessing buat desainer yang butuh speed. Saya pernah selesaikan landing page 8 section dalam 45 menit pakai Elementor—semua dari nol, tanpa template.

Divi? Dia punya pendekatan yang lebih “zen”. Interface full-screen, panel muncul pas klik elemen. Terasa lebih luas, lebih immersive. Tapi butuh 3-4 klik lebih banyak untuk akses setting yang sama. Awalnya saya benci, tapi setelah 20+ proyek, saya sadar: Divi itu didesain buat desainer yang suka fine-tuning visual, bukan yang cuma throw elements.

Responsive Editing: Siapa yang Beneran Mobile-First?

Elementor punya breakpoint editor yang super spesifik. Kamu bisa tweak margin di tablet 768px, terus di tablet 1024px beda lagi. Tapi ini jebakan—saya pernah ada proyek dengan 47 breakpoint custom yang bikin loading jadi lambat banget.

Divi lebih sederhana: desktop, tablet, mobile. Titik. Awalnya kelihatan kaku, tapi justru ini yang nge-save waktu. Saya nggak perlu mikir “eh, di iPad Mini gimana?” Semua otomatis fluid. Hasilnya? 30% lebih cepat selesai revisi mobile.

Warning: Elementor Pro punya fitur Custom Breakpoints yang bikin kamu tergoda jadi perfectionist. Trust me, 95% user cuma buka di desktop atau mobile biasa. Jangan buang waktu.

Speed & Performance: Angka Nyata dari Google PageSpeed

Mari kita bicara data. Saya ambil 10 website identik yang saya bangun—5 pakai Elementor, 5 pakai Divi. Semua di hosting yang sama (Cloudways Vultr HF 2GB), semua pakai caching WP Rocket.

Baca:  Kelemahan Notion Yang Jarang Dibahas: Alasan Saya Pindah Ke Obsidian

Hasil rata-rata mobile score:

  • Elementor: 68/100 (dengan 3 tambahan plugin untuk optimasi)
  • Divi: 79/100 (out of the box, tanpa plugin tambahan)

Kenapa? Elementor nge-render DOM yang lebih kompleks. Satu section bisa jadi 7 div bersarang. Divi lebih “flat”. Saya pernah audit site Elementor klien dan menemukan 1,200+ DOM nodes di homepage. Setelah migrasi ke Divi, turun jadi 400 nodes.

Tapi ada trade-off: Divi load 5 CSS file internal di head yang gabung jadi 180KB (minified). Elementor? Cuma 2 file tapi total 240KB. Jadi Divi masih menang ukuran.

Real-World Impact

Klien saya yang e-commerce dengan 50k visitor/bulan ngalami bounce rate turun 12% setelah migrasi dari Elementor ke Divi. Bukan karena desain berubah—tapi karena load time dari 3.2 detik jadi 1.8 detik.

Pricing: Mana yang Lebih “Sakit” di Kantong?

Elementor Pro pakai model subscription: $59/tahun untuk 1 site, $199/tahun untuk 1000 site. Divi? $89/tahun atau $249 lifetime (sekalian bayar).

Anggap kamu desainer dengan 15 klien aktif per tahun:

  • Elementor: $199/tahun x 5 tahun = $995
  • Divi: $249 sekali = $249

Saya beli Divi lifetime di 2018. Sampai sekarang masih update, masih support, dan udah dipake di 80+ proyek. Itu cost per project: $3.11. Kalau pakai Elementor, udah keluar $1,200+ sampai sekarang.

Tapi hati-hati: Divi lifetime sekarang sering di-discount jadi $199. Tapi mereka juga punya Divi Teams yang $277/tahun. Jangan tergoda kecuali kamu butuh VIP support.

Ecosystem & Community: Saat Kamu Stuck di Tengah Malam

Pernah ada bug di client site jam 11 malam? Ini krusial.

Elementor punya komunitas Facebook group dengan 140k+ member. Respons cepat—biasanya dalam 15 menit ada yang jawab. Tapi jawabannya kadang cuma “clear cache”. Forum official mereka? Tiket support bisa 24-48 jam.

Divi punya komunitas yang lebih kecil tapi lebih “intimate”. Facebook group Elegant Themes (Divi) sekitar 80k member, tapi kualitas jawaban lebih teknis. Plus, mereka punya Divi Nation—banyak tutorial berkualitas tinggi. Saya pernah submit bug detail dan dapet reply dari Nick Roach (founder) langsung dalam 6 jam.

Third-Party Addons

Elementor punya 800+ addon plugin. Mantap? Iya. Tapi 90% nggak perlu. Saya cuma pakai Essential Addons dan Crocoblock (kadang). Terlalu banyak addon justru bikin site berat dan konflik.

Baca:  Kelemahan Wix Website Builder: Hal yang Harus Diketahui Sebelum Bayar Langganan

Divi? Ecosystem kecil—tapi semua premium. Divi Supreme, Divi Engine, Divi Den—semua fokus. Saya pakai Divi Supreme Pro di 30 site, zero conflict. Kualitas over kuantitas.

The Lock-in Factor: Rahasia Gelap yang Nggak Dibicarain

Ini yang paling penting. Elementor pakai struktur data standar WordPress (post meta). Kalau kamu disable Elementor, kontenmu tetap ada—walaupun jadi shortcode tag yang berantakan. Tapi masih bisa di-migrate.

Divi? Dia pakai shortcode sendiri. Disable Divi, dan situsmu jadi penuh kode [et_pb_section][et_pb_row]… yang nggak bisa dibaca. Saya pernah migrasi site Divi ke Gutenberg—butuh 3 hari penuh buat cleanup manual.

Hard Truth: Kalau kamu pakai Divi, kamu “nikah” sama Divi. Elementor masih bisa “divorce” meski berantakan. Pilih sesuai komitmen.

Template Quality: Siapa yang Bikin Kerjaan Cepat Tanpa Ngeluh?

Elementor punya 300+ template gratis di kit library. Tapi 70% terlalu generik—bikin site klien keliatan “template-an”. Saya biasanya cuma pakai 2-3 section dari template, sisanya custom.

Divi punya 200+ layout pack yang lebih “niche”. Ada pack untuk coffee shop, yoga studio, law firm—semua dengan copywriting sample yang relevan. Saya selesaikan website klien restoran dalam 2 jam pakai Divi layout pack. Cuma ganti gambar dan warna.

Tapi kalau kamu desainer yang selalu bikin dari nol kayak saya, template ini cuma jadi inspirasi. Jadi ini bukan deal-breaker.

My Verdict: Untuk Siapa, Builder Apa?

Setelah 5 tahun, ini rule of thumb saya:

Pakai Elementor kalau:

  • Kamu butuh speed ekstrem dalam development (deadline 1 hari)
  • Klienmu butuh custom interaction heavy (parallax, animation complex)
  • Kamu nggak mau “nikah” dengan satu builder—butuh fleksibilitas migrasi
  • Budget tahunan nggak masalah (bisa charge ke klien)

Pakai Divi kalau:

  • Performance adalah priority #1 (SEO, conversion rate)
  • Kamu bangun banyak site dengan niche serupa—bisa reuse layout pack
  • Budget jangka panjang penting (investasi sekali, untung terus)
  • Kamu desainer yang suka fine-tune detail visual tanpa buru-buru
AspekElementor ProDivi
Speed Development⭐⭐⭐⭐⭐ (45 menit/page)⭐⭐⭐⭐ (60 menit/page)
Performance Out-of-Box⭐⭐⭐ (68/100)⭐⭐⭐⭐⭐ (79/100)
Cost 5 Tahun (15 site)$995$249
Community Support⭐⭐⭐⭐ (cepat tapi dangkal)⭐⭐⭐⭐⭐ (lambat tapi dalam)
Migration Flexibility⭐⭐⭐ (bisa tapi berantakan)⭐ (susah banget)

Sekarang, saya pribadi pakai keduanya. Elementor untuk proyek cepat dan eksperimental. Divi untuk proyek klien besar yang butuh maintenance jangka panjang. Tapi kalau harus pilih satu? Saya bakal pilih Divi—karena performance itu yang dibayar klien, bukan seberapa cepat saya drag-and-drop.

Yang terpenting: jangan jadi tool purist. Pilih yang bikin kerjaanmu selesai, klien happy, dan kamu masih bisa tidur malam tanpa mikir bug. Itu aja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Carrd.Co: Bikin Landing Page Portofolio Gratis Dalam 10 Menit

Pernah dapet email klien yang minta portofolio padahal link Behance-mu udah di…

Kelemahan Wix Website Builder: Hal yang Harus Diketahui Sebelum Bayar Langganan

Kalau ada klien yang bilang, “Bang, tolong bikinin website pakai Wix aja,…

Kelemahan Notion Yang Jarang Dibahas: Alasan Saya Pindah Ke Obsidian

Bayangin lagi deadline client mepet, lo butuh catatan lama buat referensi, tapi…

Review Jasper Ai Bahasa Indonesia: Apakah Hasil Tulisannya Enak Dibaca?

Sebagai kreator yang setiap hari bergelut dengan brief klien, script video, dan…